Marilah
kita kembali ke masa lalu, suatu masa ketika kita masih kecil. Saat itu, kita
melihat dunia ini dengan begitu takjub dan heran; semuanya serba ajaib. Hidup
sungguh menggembirakan. Kita melihat rumput-rumput berwarna hijau dipenuhi
embun-embun pagi. Langit sebagai atap bumi berwarna biru muda, sangat memukau
dipandang mata. Kupu-kupu indah
beterbangan di udara menghiasi suasana sepi. Apalagi jika mendapati senyuman
seorang wanita yang kasihnya takpilih kasih, Ibu, jiwa kita semakin sejuk. Pelukan
kasihnya mengalahkan pelukan hasrat bidadari surga.
Saturday, 17 November 2012
Thursday, 1 November 2012
Liberal Positif Gejala KanKer
Ketertarikan orang-orang terhadap shopping
menu ateisme di Indonesia pada jamannya Mukti Ali dan Cak Nur berbeda dengan
masanya Bung Ulil dan Mas Bimo. Dulu, mereka masih memperoleh jatah mulus untuk
mensosialisasikan metode menjadi murtad itu. Tulisan dan petuah ulama dan tokoh
tidak tersebar luas seperti sekarang. Apalagi fulus dari barat juga masih cair. Itu dulu.
Sekarang, jangan coba-coba untuk
menyebarkan pemikiran nyeleneh.
Mau bikin seminar ilmiah? Buat buku? Beasiswa
gratis? “Fulus kering”. Kecele. Isu
itu memang telah menjadi perbincangan hangat bahwa JIL belum mati, tapi
sekarat.
Kondisi sekarat tidak lantas membikin
Bung Ulil, Si Goen, dan teman-teman
mereka pensiun menjadi budaknya Barat. Banyak media yang menyoroti bahwa mereka sekarang menjadi penyanyi orkes; minta
saweran. Dulu mereka mendapat dana dari sumber-sumber domestik Eropa dan yang
paling besar adalah (TAF) The Asian Foundation. Tapi sekarang, mereka memperoleh
dana dari voluntary (sumbangan
sukarela).
Kolom Donasi yang ada di situs resmi
mereka merupakan salah satu bukti bahwa JIL saat ini mengalami money crisis. Coba buka www.islamlib.com,
maka kita akan mendapatinya berbeda; dipampang sebuah kolom donasi di situs
resmi tersebut, dan ada sebuah kalimat nesu; Kami menerima sumbangan untuk
membantu pendanaan kegiatan-kegiatan JIL.
