Wednesday, 6 March 2019

Kebijaksanaan

Jatuh ke dalam sebuah renungan, bijaksana itu apa sih? Apakah bijaksana itu ibarat orang buta yang membawa tanglong? Sebab alkisah di sebuah negeri, pesta besar sedang digelar. Tamu-tamu, termasuk tokoh besar hadir. Termasuk juga para cerdik-cendikia, pelajar, dan orang-orang bijak.
Selang beberapa jam, bulan menyapa para undangan dengan cahaya indahnya. Rupanya, acara pesta telah selesai. Satu persatu para undangan berpamitan kepada tuan rumah sebagai penyelenggara pesta. Ada satu tamu dari kalangan orang bijak, sambil menjulurkan tangan hendak bersalaman untuk pamit, meminta sesuatu kepada tuan rumah, "Apakah tuan tidak keberatan meminjamkan saya sebuah tanglong?" Tuan rumah bertanya heran, "Untuk apa?" Sang bijak menjawab bahwa dia butuh tanglong untuk kembali pulang pada malam hari. Tuan rumah semakin heran, begitu pula undangan lain yang mendengar. Apakah gunanya lampu penerang bagi seorang buta?
"Anda buta atau tidak, sih?", tuan rumah bertanya memastikan. "Mataku buta. Tapi hatiku dapat melihat. Dengan tanglong itu, setidak-tidaknya, cahaya bisa menerangiku. Dengan demikian, orang lain yang sedang lewat tidak menabrakku".
Pendapatnya begitu simpel, dan memang benar-benar bijak. Di dalam benaknya, lampu tidak saja memberi cahaya. Si buta yang bijak itu mampu menempatkan ilmunya dengan tepat sasaran. Orang-orang yang mendengar penjelasan itu insyaf, diam karena faham; menyetujui bahwa pikiran orang bijak itu tidak buta.
Di sini ada kesederhanaan berpikir, dan seseorang yang berpikir secara sederhana tidak sekadar berbicara fakta; juga tidak hanya berbicara tentang teori ilmu. Pemikir sederhana bukan ilmuwan yang sekadar menyodorkan kenyataan dan tidak hanya pandai berspekulasi demi kepentingan pribadi.
Bijaksana itu, berjalan dimanis untuk menggapai kenyataan dan dalam berjubel teori. Berjibaku menilai, masuk ke dalam ideologi yang bergulat. Jadi orang bijak takkan memilih netral. Sebab takkan berhenti berjalan secara dinamis, menggunakan bahasa kaumnya, melindungi mereka, dan mencerahkan mereka. Ketika ia ada, ia menjadi ilham dan akan menciptakan suatu peradaban.
Jadi, hemat saya, mencapai pemikiran yang bijak mesti lebih dari hanya bermodal ilmu, tetapi juga hati.

Share:

Rahim Ibu: Kenikmatan Surgawi Bayi

Bayi yang keluar dari rahim ibu menangis. Karena ia mendambakan ketenangan ketika di dalam rahim ibu. Ternyata dia harus memasuki hingar-bingar dunia yang dipenuhi masalah yang menyedihkan.
Bayi yang mengalami proses keberalihan ini belum siap. Sebab dia bukan orang dewasa yang berpengalaman. Melainkan dia hanya bayi, yang ruang lingkup pengalamannya hanya di dalam rahim ibu. Sang bayi seperti kaget, kenyataan mengantarkan dia pada kehidupan selanjutnya, tanpa persiapan dan kematangan apa-apa, kecuali menangis dan persiapan gembira di dalam dekapan sang ibu.
Ada kedamaian surgawi yang bayi peroleh di dalam rahim. Ia tak perlu usaha apa-apa. Segala kebutuhannya terpenuhi, termasuk kebutuhan gizi dan tempat tinggal, oleh ibu, yang menjadikan pola makannya termenej dan perutnya sebagai rumah tempat tinggal surgawinya.
Lantas, si bayi dipaksa mengenal banyak manusia dan berhadapan dengan mereka. Entah tanpa pemikiran apapun, secara alami, bayi meresponnya dengan mengucurkan air mata, sebab entah dari mana, hati nuraninya yang sangat lugu bisa menelisik ke titik paling jauh tentang kekejaman dunia, kerja keras, kematian, berjubel masalah, dan sebagainya dan seterusnya, pada masa mendatang.
Tentu saja, kita tidak hendak berbicara tentang hal ini secara logis. Keluarnya bayi dari rahim ibu ini bukan deskripsi ilmiah, melainkan deskripsi sastrawi yang bersifat metaforis, sekadar menggambarkan bahwa kehidupan dunia adalah penjara, demi memperoleh kehidupan surgawi setelah kematian.
Dalam tahap dan proses perjalanan kehidupan dunia, bayi, yang kelak akan menjadi dewasa, dan akhirnya tua renta, harus menomorsatukan Penciptanya di dalam sanubari, hati, dan pikirannya. Sebab dengan hanya dengan demikianlah, alam surgawi tidak sekadar euforia, tetapi benar-benar bisa dirasakan meskipun raga sedang berpijak di dunia.
Tak butuh waktu lama, seorang bayi ketika baru saja keluar dari rahim ibu, dituntun oleh orang dewasa untuk merasakan Adikuasa yang menjadi sumber ketenagan itu. Dengan dikumandangkannya adzan dan iqamah di telinga kanan dan kiri, menunjukkan adanya tuntunan, pengajaran dan pendidikan spiritual. Ada harapan, bayi selalu menautkan hati dan pikirannya kepada yang Maha Kuasa, ketika ia beranjak dewasa dan harus tertatih-tatih menghadapi masalah.
Tak diharapkan sama sekali, ketika bayi sudah dewasa kelak, ia mencari kehidupan surgawi di dunia dengan narkotika dan seks bebas. Sebab, keutuhan surgawi tetap justru takkan hilang dari hati sang bayi manakala mencari kehidupan dunia surgawi dengan jalan narkotika dan seks bebas itu.
Bayi menangis mendapati keberadaan dunia, namun sebagai manusia dewasa kelak, bayi akan doyan dengan kenikmatan duniawi yang semu.
Selain itu, bayi akan mendapati banyak kesalahan dianggap kebenaran; banyak maksiat dianggap kebebasan berekspresi. Akan ada yang memberi terkaan bahwa yang haram itu halal. Terbalik. Kelak, bayi akan seolah "melihat bumi dari satelit", dan kelihatan, kebodohan dan nafsu. Ini menjadi alasan imajinatif, mengapa bayi lebih demen menginap di rahim ibu tinimbang terjun ke dunia.

Share:

Sunday, 3 March 2019

Hakikat Dakwah

Pada suatu waktu, seorang guru menjelaskan kepada murid-muridnya tentang bahaya rokok dengan penuh semangat dan gairah, bahkan mungkin sampai mulutnya berbusa-busa. Pada waktu istirahat sekolah, guru tersebut duduk-duduk di bawah pohon lalu secara enjoy merokok sambil ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng. Apakah penjelasan panjang lebar tentang bahaya rokok tadi punya arti bagi murid-murid?
Jangan dijawab.
Lebih-lebih murid-murid menemukan bahwa merokok merupakan tradisi di lingkungannya: putung rokok berserakan di mana-mana; dalam kongko dan bincang-bincang orang-orang ber-hos-hos-hos-ria. Semua teori tentang bahaya rokok tadi tambah dan semakin tak berguna.
***
Suatu waktu, Kiai Ahmad Dahlan memandikan anak-anak jalanan yang nakal. Beliau dicibiri oleh orang-orang, juga dirasan-rasani. Apa untungnya coba, melakukan pekerjaan semacam itu?
Orientasi beliau bukan untung-rugi: beliau memandikan anak jalanan dengan ikhlas, tanpa mengharap kompensasi materialistis dan pujian apa-apa. Lantas, beliau sedang apa?
Beliau sedang berdakwah. Dakwah itu, pengorbanan.
Ada lagi. Seorang kiai punya santri amat bandel. Pelanggarannya tidak tanggung-tanggung: mabok. Extraordinary crime menurut pak kiai. Pagi-pagi santri ini pasti keluar dari kawasan pondok. Untuk bisa bermabok-ria di lingkungan yang sepi dari pengawasan kiai dan pengurus pesantren. Kumpul dengan preman-preman jalanan.
Berulang kali pengurus pesantren memberinya takzir dan tindakan. Mulai dari menulis kalimat astaghfirullahal-'adzim sebanyak 1000 kali di bawah terik matahari, sampai digundul dan dipukuli pakai penjalin. Jangan tanya kenapa berbagai hukuman tidak jua manjur, tidak jua membuatnya jera. Jangan tanya.
Pak kiai turun tangan. Malam-malam sehabis si santri bermabok-ria, beliau memanggilnya. Beliau memerintahkan santri itu dengan nada sopan untuk tidur di kamar pribadinya pak kiai. Karena si santri mabok kepayang, dia manut saja. Kiai mengemulinya dengan selimut setelah memberi makan, minum, dan obat.
Pagi menjelang. Sekitar pukul tujuh, si santri bangun dan kaget mendapati dirinya berada di atas ranjangnya al-mukarram pak kiai. Tidak shalat shubuh pula.
Akan tetapi, apa efeknya?
Semenjak saat itu, si santri taubat, tidak pernah mabok lagi, selalu mengaji dan acap menghadiri pelaksanaan shalat berjamaah di masjid.
Ini dakwah.
Ada orang mengantuk. Dia tidak langsung naik ke atas ranjang, memeluk guling, dan kemulan selimut. Tidak! Melainkan, dia lebih dulu pergi ke kamar mandi. Selepas membuang air kecil, berwudhu. Kemudian, baru naik ke ranjang tidur. Menghadap kiblat meniduri lambungnya yang sebelah kanan (janbihi al-ayman). Lalu, dia melafalkan ayat kursi, al-mu'wwidzatain, dan ditutup dengan bismi-Kal-Lahumma ahya wabismi-Ka amutu, atas nama-Mu aku hidup, dan atas nama-Mu aku mati.
Karena secara istikamah setiap hendak tidur dia melakukan ini, pasti ada orang yang melihatnya, pasti ada yang meneladani cara tidurnya.
Ini dakwah.
Ada orang sabar. Dicemooh orang, sabar. Berulangkali hatinya disakiti, sabar. Cemoohan tidak dibalas cemoohan pula. Tapi dibalas dengan senyum atau diam.
Ini juga dakwah.
Pernah suatu waktu, seseorang mengeluhkan anaknya yang suka sekali minum dan makan yang manis-manis, hingga menyebabkan anaknya mengidap penyakit kencing manis. Dia matur kepada pak kiai.
"Pak yai, gimana ini anak saya? Berilah saya amalan supaya anak saya berhenti mengonsumsi gula."
Pak kiai tidak menjawab, tetapi memberi pertanyaan balik kepada orang itu, "Apakah kamu suka ngopi?"
"Ya", jawab orang itu.
"Sering ngopi?"
"Njih pak yai. Dalam sehari saya bisa menghabiskan dua gelas kopi".
"Inilah masalahnya!"
"Loh, kenapa, pak yai?"
"Begini", jelas pak kiai, "kamu silakan terus minum kopi, asal jangan pakai gula. Kalau nyuruh anak untuk berhenti mengonsumsi gula, sedangkan kamu masih mengonsumsi kopi pakai gula, kendati kamu nyuruh-nyuruh anak sampai mulut kamu berbusa pun, suruh-suruhanmu tidak akan manjur".
Apakah perintah si bapak kepada anaknya ini adalah dakwah? Ya, dakwah. Akan tetapi, di dalam dakwah, terkadang berteori saja menjadi tidak ada apa-apanya manakala tidak disertai keteladanan.
إذا كان رب البيت للطبل ضارب # فلا تلم الصبيان فيه على الرقص
Jika pemilik rumah gemar menabuh gendang, jangan salahkan jika anak-anak di rumah itu suka menari.
Share:

Thursday, 28 February 2019

Bahagia dan Susah

Kalau dipikir-pikir, bahagia dan susah itu mirip, beda tipis dikit. Bahagia dan susah mirip dalam hal silih berganti atau ketidakkekalannya. Bedanya, bahagia merupakan keadaan yang menyenangkan kita, sedangkan susah merupakan keadaan yang tidak menyenangkan kita.
Bahagia atau susah pada dasarnya kerap subjektif, kadang tidak berkaitan dengan objek tertentu. Maksudnya, bahagia atau susah tergantung orangnya, bukan disebabkan sesuatu di luar dia.
Ada dua orang yang sama memakan hidangan yang sama. Yang satu merasa nikmat dan yang satunya lagi kecewa. Apa sebab? Hal ini terjadi karena faktor orangnya yang subjektif tadi.
Yang merasa nikmat adalah orang yang memiliki sikap mental yang bahagia, dan yang merasa kecewa adalah orang yang punya sikap mental yang tidak bahagia. Yang satu punya mental bahagia di dalam dirinya, dan yang satu tidak punya.
Benar jika dikatakan al-Maghfur lah Kiai:
السعادة الحفيقية خارجة عن نفس الناسوت اهتداها اللاهوت، وليست السعادة من له مال كثير ولا هدي وفير، ولكنها من سعد لما هداه الله الغافر
"Kebahagiaan sejati hanya dimiliki oleh jiwa-jiwa yang mendapatkan petunjuk Ilahi, bukan orang yang mendapatkan kekayaan atau penghargaan melimpah. Kebahagiaan sejati adalah milik mereka yang beruntung karena mengikuti dari Sang Maha Pengampun."
Orang boleh punya uang banyak, segala kebutuhannya terpenuhi dengan mudah. Tentu dia bahagia. Tapi belum tentu juga sih. Sebab saat itu juga, saat segala kebutuhan primer, sekunder, dan tersiernya terpenuhi, dia masih membutuhkan sikap mental yang merupakan alat penting meraih kebahagiaan. Ini pun tidak menjamin, karena terkait dengan ketidakkekalan itu tadi.
Mustahil seseorang bahagia terus menerus. Juga mustahil susah terus menerus. Orang yang bahagia terus menerus, lama kelamaan datang juga kesusahan. Orang yang susah terus menerus, lama kelamaan datang juga kebahagiaan.
Karenanya, manakala Sayyidina Uqail bin Abi Thalib menikah, orang-orang mendoakannya demikian: bir-rafa' wal-banin. Artinya: semoga bahagia dan banyak anak.
Sayyidina Uqail menegur orang-orang itu, "Jangan ucapkan doa semacam itu! Akan tetapi, ucapkanlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah:
بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير
Semoga Allah memberkahimu saat engkau bahagia, semoga Allah memberkahimu saat engkau susah, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.
Sayyidina Uqail melarang orang-orang untuk mendoakannya bahagia, sebab tidak ada perjalanan hidup pasca menikah yang hanya dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa kesusahan. Sebagaimana disebutkan tadi, bahwa mustahil manusia bahagia terus tanpa susah sama sekali, sebagaimana mustahil manusia susah terus tanpa bahagia sama sekali. Karena bahagia dan susah itu tidak kekal dan silih berganti, maka yang dibutuhkan seseorang adalah berkah: bahagia yang berkah, sebagaimana susah tapi berkah.
Lantas, bagaimana supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesusahan yang dipenuhi berkah?
Menumbuhkan mental bahagia. Yaitu dengan cara melafalkan syukur secara lisan, memupuk syukur di dalam jiwa, dan mengekspresikan syukur melalui perbuatan.
Orang yang mampu mempertahankan syukur, akan datang keridhaan atau kerelaan. Orang yang ridha atau rela, dia akan bahagia. Bahkan, manakala dia tertimpa kesusahan, dia menganggap kesusahan itu sebagai kenikmatan. Karenanya dia bersyukur. Ini sebagaimana dituturkan oleh Imam al-Ghazali ketika ia menjelaskan tentang orang yang bermental ridha. Kenikmatan dan cobaan nyaris tidak ada bedanya. Kenikmatan yang melahirkan kebahagiaan dan cobaan yang melahirkan kesusahan, adalah kenikmatan itu sendiri. Sikap "tidak ada bedanya" inilah yang terpatri dalam jiwa Sayyidina Umar bin al-Khattab, manakala beliau mengatakan, "Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah antara keduanya yang baik menurut Allah bagiku."

Share:

Ngerasani, Topik Trending sampai Hari Kiamat

Mungkin, sampai kiamat tiba pun, topik tentang keburukan dan aib sesama tetap naik daun sebagai topik paling trending mengalahkan topik-topik yang lain. Orang-orang begitu enteng menggerakkan lidah mereka untuk mengungkap keburukan dan aib sesama. Tidak butuh pemikiran matang dan usaha super untuk meneliti keburukan sesama, kemudian membicarakannya. Menjadi profesional dalam soal ini tidak membutuhkan usaha intelektual, cukup emosi.
Inilah yang menyebabkan orang-orang kita mudah main rasan-rasan. Yaitu ketika rasa benci dan dendam merasuk ke dalam jiwa, maka pemilik jiwa akan terdorong dan terangsang untuk memperburuk citra orang yang ia benci dan ia dendami. Hanya bermodal kemarahan dan kebencian untuk melakukan hal ini.
Kadang-kadang, orang yang menjadi objek penggunjingan adalah orang terdekat, kerabat, sahabat, atau teman. Tidak ada kebencian di sana. Akan tetapi, namanya saja obrolan, ketika lengang tidak ada orang yang membuka dan melanjutkan obrolan, ngerasani orang-orang dekat adalah jalan keluar supaya obrolan kembali hangat. Tanpa terasa dan tanpa rencana, tiba-tiba saja, keburukan dan aib sesama telah menghangatkan suasana kongko itu.
Nah, karena sejak dulu sudah trending dan sampai kiamat tiba tetap akan trending, dosa menggunjing alias ghibah ini seperti tidak ada. Dosa lisan yang rentan merusak kohesi sosial ini seperti bukan lagi dosa, melainkan dianggap kebiasaan sehari-sehari yang lumrah terjadi. Akhirnya, kita pun memakluminya, membiarkan orang-orang berrasan-rasan-ria, bahkan tanpa terasa kita berurun rasan-rasan di tengah rasan-rasan orang-orang
Padahal, tidak butuh dalil apapun untuk mengatakan bahwa ghibah, atau menggunjing, atau ngerasani adalah perbuatan buruk. Namun sekali lagi, perbuatan buruk, seburuk apapun, jika sudah biasa dikerjakan, akan menjadi "perbuatan baik". Seolah sebuah keniscayaan, jika obrolan tidak dibumbui dengan ngerasani, obrolan itu tidak akan hangat.
Adakalanya sebagian kita mengetahui bahwa ngerasani itu kebiasaan yang tidak baik. Tetapi, karena ada unsur keasyikan di sana, kita mau tidak mau, sadar tidak sadar, akan menjadi asyik juga menggunjing sesama.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbuatan menggunjing asyik dikerjakan. Salah satu dari faktor-faktor tersebut ialah, karena, dengan menggunjing, penggunjing merasa telah dianggap baik oleh pendengarnya dan objek yang digunjing akan turun reputasinya. Penggunjing merasakan keamanan dari stigma buruk pendengar manakala membicarakan aib dan keburukan sesama. Artinya, penggunjing mendambakan kenaikan reputasi diri melalui cara menurunkan dan merendahkan reputasi orang lain.
Dalil dan argumentasi dipaparkan kepada orang yang terbiasa menggunjing, tetapi ini percuma, karena dia telah menemukan "kamar barunya" yang mengasyikkan dan mendamaikan.
Bagaimana pun, beranikah kita, ketika "seminar kecil" penggunjingan sedang berlangsung, untuk memalingkan wajah, atau menudukkan kepala, atau menegur secara langsung, yang menandakan ketidaksetujuan dan ketidaksukaan kita pada perbuatan bejat menggunjing yang saat itu sedang berlangsung?
Kadang kita berani, kadang tidak. Jika penggunjing adalah orang yang lebih tinggi derajat sosialnya daripada kita, kita bisa jadi tak berani. Takut dijauhi. Takut dibenci.
Alih-alih, ketika "budaya" ngerasani sedang berlangsung kita ikut nimbrung di dalamnya, mengapa kita tidak berani menghadapi "budaya" ngerasani para penggunjing sadar akan perbuatan kelirunya. Jika tidak berani mengungkapkan ketidaksetujuan kita secara verbal pada pekerjaan menggunjing, kita bisa menggunakan bahasa non-verbal atau ekspresi ketidaksukaan kita mana pada pekerjaan ngerasani itu.
Mulailah dari sini, dari langkah kecil mengekspresikan ketidaksetujuan dengan cara, misalnya, berpaling muka. Sebab, ngerasani sudah "membudaya" dan sulit terpisahkan dari obrolan dan jangongan tak resmi. Mengubahnya atau menghapusnya bisa dimulai secara gradual, sedikit demi sedikit, dan persuasif.

Share:

Tuesday, 26 February 2019

Luntang-Luntung yang Tidak Penting tetapi Penting

Aku (seperti) orang yang luntang-luntung di sebuah desa alias perkampungan. Terisoliasasi. Karena bingung harus ke mana, akhirnya aku harus terus jalan tanpa menghiraukan bagaimana tanggapan orang dan betapa lucunya diriku. Ora ngurus bagaimana pun dan embuh, itu urusan orang-orang dan urusanmu.
Ada hal penting yang membuatku tetap berada di atas pijakan kaki yang mantap, yaitu khidmah dan ilmu. Dan ada lagi, tapi aku berat sekali menyebutnya. Apalagi kalau bukan NYAWAH.
Khidmah, ilmu, dan, aku agak risih menyebutnya, sawah merupakan peneguh hatiku di tengah kememblean cangkem orang-orang yang kerap tidak punya adab dalam melontarkan isi otak mereka. Saya tidak mau menyebut siapa mereka. Biar saja. Dan ini adalah bentuk dari tantangan kecil yang aku anggap amat besar. Sebab, seringkali di tengah cibiran dan cangkem manungso yang tak terjaga, hati dan jiwaku mesti berdebar-debar dan aku mesti berusaha dan terus berusaha memperkuat diri mempertahankan prinsip dan berusaha menyingkirkan rasa malu yang sangat tidak penting.
Aku tetap bertahan, jujur saja, karena tiga hal itu. Tetapi hakikatnya, pertahanan dengan tiga hal itu adalah sekadar metafor, sebab hakikat yang memberiku pertahanan sehingga aku dapat berpijak di atas tanahk kepercayaan diri adalah, siapa lagi, jika bukan Allah–subhana-Hu wata’ala.
Sudahlah, kamu jangan banyak tanya, atau banyak berprasangka. Aku bukan sufi atau orang sok suci. Atau sebenarnya kamu memang tidak paham apakah itu sufi dan tasawuf. Apa yang aku katakan adalah benar adanya. Suatu kebenaran yang faktual, yang tidak cukup sekadar diyakini, tetapi juga disadari bahwa itu adalah kebenaran. Berbicara kebenaran berarti berbicara akidah. Berbicara akidah berarti berbicara Allah–subhana-Hu wata’ala.
Kembali ke substansi di muka, yaitu soal luntang-luntung. Mau dibilang luntang-luntung, memang begini adanya. Mau dibilang tidak, ya tidak juga. Toh hidupku normal sebagaimana manusia lain. Masalahnya adalah, aku tidak tahu apa yang membuatku luntang luntung dan luntang luntung sendiri itu apa aku tidak mengerti. Aku seperti tersesat dalam jurang yang embuh seperti apa bentuknya. Kamu paham kan maksudku?
Aku tahu kamu tidak akan paham. Dan itu urusanmu, bukan urusanku.
Terimakasih telah membaca tulisan ini sampai selesai. Maaf.

Share:

Nggak Punya Waktu Buat Bekerja

Aku beberapa hari ini sedang menikmati sebuah buku tentang peta perang pemikiran kontra liberal. Kamu bisa membayangkan, betapa sulitnya melahap buku ini bagi seorang yang hidup di tengah masyarakat yang buta membaca, jauh dari unsur intelektual, dan jauh dari perpustakaan.

Aku hidup di tengah masyarakat pekerja dan petani, atau lebih tepatnya masyarakat kultural, bukan intelektual. Aku bukan anti terhadap mereka. Aku tetap memaklumi bahwa mereka adalah masyarakat dan aku adalah bagian dari mereka. Akan tetapi, hidup dalam kondisi masyarakat seperti ini membuatku memiliki tantangan tersendiri.

Ketika aku duduk-duduk dalam rangka membaca buku atau berpikir mengenai pemikiran yang aku dpaat dari buku, aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan, menyesakkan dada. Aku dianggap pengangguran yang tidak punya pekerjaan, karena sering duduk-duduk terus. Aku bisa saja mengabaikan bagaimana pun tanggapan mereka. Tapi bagi seorang yang tidak cuekan seperti aku, itu sulit. Aku kerap memasukkan tanggapan mereka ke dalam hati, sehingga membuatku sakit hati. Atau bahasa gampangnya adalah baper.

Tapi tak apa. Tak masalah. Dengan Taufik dari Allah, aku akan hadapi semua ini. Bagaimana pun, tugas seorang pelajar adalah tetap belajar, dan setiap muslim mestinya adalah seorang pelajar. Meski aku punya tanggung jawab terhadap istri dan terhadap lingkungan-masyarakat sekitar, aku akan tetap pada jalan yang menurutku adalah terbaik, yaitu belajar dan mengajar. Aku harus tetap membaca terus dan membaca. Aku harus tetap menulis terus dan menulis. Tidak ada yang bisa menghentikanku walau bagaimana pun keadaanya. Karena kegiatan intelektual tidak boleh berhenti dan mandeg di tengah jalan. Bagaimana pun keadaannya, aku tetap harus meniti jalan yang aku pilih.

Semua ini, semoga berkenaan dan berbarengan dengan Rahmat, Pertolongan, dan Petunjuk Allah. Mudah-mudahan Allah menolongku menghadapi semua ini. Amin..

Oh ya, ada yang terlewatkan. Aku bukan tidak ingin menjadi orang kaya raya. Aku sungguh sangat ingin. Namun keinginanku untuk menjadi kayaraya ini tidak sebesar keinginanku untuk terus membaca dan menulis. Kadang, muncul di dalam pikiranku bahwa aku ogah jadi orang kaya. Tapi aku takut jatuh pada zona berburuk sangka kepada Allah. Padahal Allah adalah Dzat yang Maha Kaya dan Maha Kuasa.

Masalahnya adalah, soal waktu atau soal aku yang tidak mau diatur sana-sini oleh orang lain. Aku tidak mau menjadi budaknya dunia, sehingga membuat dada ini sesak. Kalau masalah pengabdian kepada ilmu yang sekira membuatku untung dan bahagia, aku mau disuruh-suruh. Asalkan aku mendapat ilmu. Kalau aku diperintah sana-sini karena urusan harta, aku berat sekali. Amat berat.

Masalah waktu, kamu tahu, hidup ini hanya sekali dan hanya sebentar. Betapa bodohnya kita jika kita hanya mengisi kehidupan ini hanya dengan kerja-kerja dan kerja, seperti digembar-gemborkan oleh Jokowi. No. Hidup bukan hanya soal gerakan tubuh, tetapi juga soal gerakan hati dan pikiran. Alangkan eman waktu demi waktu yang aku lewati jika hanya mendapatkan duit alias fulus. Hal ini tidak sebanding dengan berharganya waktu yang mestinya aku isi dengan mencari dan menyerap ilmu.

Sekali lagi, aku ingin kaya, atau lebih tepatnya ingin mandiri dan punya usaha sendiri, agar aku bebas bergerak ke sana ke mari, mau belajar oke, mau duduk-duduk oke, mau begini dan geitu ya juga oke. Lebih tepatnya, aku ingin punya toko yang dari sana aku punya pemasukan sehingga bisa membungkam mulut si anu agar dia tidak merengek terus, sehingga aku bisa membaca dan menulis dengan tenang.

Sebab apa? Sebab aku sangat sedih apabila aku tidak mempunyai waktu untuk diri sendiri. Bagaimana pun, aku butuh banyak waktu dengan diri sendiri, yang aku isi dengan kegiatan intelektual, membaca maupun menulis.

Begitu saja.

Share:

Mulai Menulis; Jangan Banyak Mikir

Ngapain juga aku harus serba capek memikirkan apakah tulisanku bagus atau tidak, apakah bakal diterima redaksi atau tidak, apakah akan dianggap lucu oleh redaksi atau tidak. Ini tidak penting dan karenanya hanya akan membuang-buang waktu dan mengakibatkan aku tak kunjung memulai membuat artikel lalu aku kirimkan ke email redaksi.
Dan jika aku pikir ulang, rupanya, banyak mikir hal-hal tak penting semacam itulah yang membuatku menyurutkan langkah, kerap gagal dalam memulai dan melalui alur proses. Seandainya aku maju saja, melakukan saja, menulis saja, tanpa banyak mikir hal aneh yang tak penting itu, barangkali tulisanku sudah nongol dan aku sudah mengirim banyak tulisan, dan barangkali aku sudah mendapat honor.
Rupanya selama ini aku tertipu. Hal yang tampaknya aku pikir penting untuk aku pikirkan malah merugikan. Satu-satunya cara agar aku bisa move on secara kontinyu tanpa kerap dibaregi rasa sedih tentang kepenulisanku, adalah memulai berproses menulis, bagaimana pun jadinya dan apapun akibatnya. Karena, tugasku adalah berusaha, dan Allah yang menentukan.
Bahwa, apa yang urgen bukan hasilnya. Melainkan usahanya. Nilai besar kecilnya pahala tidak terletak apakah hasilnya bagus dan berbobot, meskipun bukan berarti usaha yang maksimal pasti menghasilkan hasil yang jelek. Nilai tersebut adalah terletak pada usaha seseorang. Semakin sulit dan rumit, sebanyak itu pula yang ia hasilkan. Maksudnya pahala di sisi Allah.

So, start writting from now and do not make much thinking about something not important!

Share:

Thursday, 14 April 2016

Deradikalisasi Agama dan Labelisasi Sepihak

PADA MULANYA

Kata ‘Radikal’ dan ‘Radikalisme’
Lembar-lembar sejarah dan hari-hari kita belakangan ini, diramaikan oleh isu tentang radikalisasi agama. Isu ini terus bergulir dan berbagai media mem-blow up-nya. Ide dan sudut pandang yang berwarna-warni bermunculan. Publik pun disuguhi “hidangan” yang berwarna-warni ini. Ada yang tepat sasaran dalam melahapnya, dan ada pula yang keliru dalam mencaploknya.
Agar tidak keliru dalam mencaplok, makalah ini akan mencoba berurunrembuk, yang pada akhirnya, makalah ini akan melakukan “de” terhadap radikalisasi agama yang memang di mata banyak orang tampak begitu seram layaknya monster. Karenanya, dalam memulai, kita bahas lebih dulu kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ itu sendiri.
Istilah radikal dan radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti akar, sumber, atau asal mula.[1] Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘radikal’ berarti ‘secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)’, amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), dan maju dalam berpikir atau bertindak. Sedangkan kata ‘radikalisme’ memiliki arti ‘paham atau aliran yang radikal dalam politik’, ‘paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis’, dan ‘sikap ekstrem dalam aliran politik’.[2]
Secara lebih luas, radikal memiliki konotasi yang lebih terbuka dan cenderung pada sesuatu yang dasar, esensial, dan principal. Radikal juga bisa dikaitkan dengan semisal ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik, dan sebagainya. Contoh: ekonomi radikal.
Adapun term ‘radikalisme’, dalam Kamus ilmiah popular karya M. Dahlan al-Barry berarti paham politik negara yang menginginkan perubahan besar sebagai jalan untuk menggapai kemajuan.[3]
Adapun Wikipedia menyodorkan definisi secara lebih khusus, yakni radikalisme ialah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.[4]




NETRALITAS RADIKAL

Radikal vis a vis Moderat
Dari kaca mata bahasa, term radikal sebetulnya netral. Seperti Mitsuo Nakamura, menyebut bahwa NU merupakan organisasi yang memiliki karakter tradisionalisme radikal. Term radikal diambil olehnya untuk melukiskan bahwa NU adalah organisasi otonom dan independen, bukan derivasi dari organisasi yang lain. (Asian South Asian Studies: 1981)
Secara politis, NU itu kritis, terbuka, dan mendasar dalam berhadapan dengan status quo penguasa pada orde baru, yakni Soeharto. NU juga menampakkan karakteristik keagamaan yang konsisten. Dengan watak yang begitu mendasar inilah NU disebut organisasi radikal.
‘Radikal’ juga dipakai antonim dari ‘moderat’, yang memvisualisasikan suatu tindakan jalan tengah saat bertemu dengan perselisihan dengan suatu gagasan atau ide: berkompromi atau berkooperasi. Sebagai kebalikan, radikal bermakna secara mempertahankan ide ketika berhadapan dengan percekcokan dengan ide lain: tidak berkooperasi.[5]
Ada juga misal dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia terkait dengan radikal dan moderat ini: dikenal dua strategi politik organisasi kebangsaan berkaitan dengan mewujudkan Indonesia merdeka, yakni strategi non-kooperatif (radikal) dan kooperatif (moderat).
Strategi radikal yaitu sikap menentang secara keras terhadap kebijakan pemerintah kolonial dan tidak adanya kooperasi dengan pemerintah kolonial. Kalangan radikal bersikap, bahwa untuk memperoleh kemerdekaan, mesti dengan jerih lelah bangsa sendiri dan bukan dengan intervensi bangsa asing (Belanda). Sebaliknya, moderat bermakna sebagai satu perbuatan terbuka terhadap kebijakan kolonial.
Kalangan moderat memiliki pendapat bahwasannya untuk memperoleh kemerdekaan, tidak bisa menanggalkan kooperasi dengan pelbagai bangsa atau kalangan lain yang berdiam di Indonesia kala itu, termasuk dengan pemerintah penjajah. Dua strategi ini sama-sama bertujuan akhir tunggal, yakni mewujudkan kemerdekaan. Dalam konteks ini, radikal dan moderat berpengertian yang positif. Misal lain, kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 tidak akan tergapai tanpa ada dorongan kaum para radikalis, yang kala itu ialah para pemuda. [6]
Term radikal juga juga bisa diberika pada gerakan Partai Komunis Indonesia yang pernah memberontak pada 1948 atau 1965: ekspresi radikal. Demikian pula berbagai Serikat Buruh Seluruh Indonesia, Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), yang memelopori berbagai aksi buruh juga termasuk gerakan radikal.[7]

Agama Radikal
Akan tetapi, saat kata ‘radikal’ dikaitkan dengan agama, kata ini belakangan kerap dimaknai amat sempit. Ada istilah misalnya Islam radikal, atau yang agak umum radikalisme agama yang cenderung berasosiasi dan berbau Islam. UIN Syarif Hidayatullah misalnya, membuat buku berjudul “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia” Di dalamnya dijelaskan bahwa terdapat 4 kelompok yang dikategorikan ke dalam salafi radikal: (1) Front Pembela Islam (FPI), (2) Laskar Jihad, (3) Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan (4) Hizbut Tahrir. Ironinya pemakaian salafi radikal di sini amat bias tersebab apa yang dikehendaki dengan salafi dan apa pula yang dikehendaki dengan radikal masih blur alias kabur.
Saat kata radikal atau radikalisme diucapkan, yang terbayang di benak ialah terorisme, jenggot, jubah, bom, garis keras, yang kesemuanya disematkan pada Islam. Sehingga seolah-olah kata radikal itu tidak bisa lepas dari Islam, yang ujung-ujungnya citra Islam tampak begitu buruk di mata public, bahkan di mata para penganutnya sendiri.
Dr. Mahathir Mohammad mengatakan bahwa pihak non-Muslim bertanggung jawab dalam pemberian label negatif terhadap Islam. Jika ada umat Islam melakukan kesalahan yang disalahkan justru agama Islam. Stereotipe umat Islam disamakan dengan orang yang tidak disiplin, orang terbelakang, tidak mengenal perikemanusiaan, fundamentalis yang fanatik, dan teroris, padahal mereka tidak dapat membuktikannya secara hukum. Mereka tidak pernah mengatakan Hitler sebagai teroris, padahal ia telah membantai enam juta orang Yahudi selama perang Dunia II. Ini merupakan kejahatan dunia terbesar abad ke-20, tetapi dunia lupa akan cap teroris kepada Hitler. Sejarah merekam bahwa ada pembantaian massal orang-orang Albania di Kosovo, yang sebelumnya telah dimulai pembantaian terhadap ratusan ribu umat Islam Bosnia-Hergezovina. Hingga kini kita tak pernah menemukan labelisasi atas Israel Radikal yang melakukan pembantaian dan penjajahan terhadap umat Islam di tanah Gaza atau Syiah Radikal di Iran yang membantai Ahlussunah, memperkosa wanitanya, membunuh anak-anaknya, dan membakar masjidnya. Sangat disesalkan mereka yang melakukan pembantaian tidak pernah dijuluki sebagai “teroris Eropa” dan “teroris Kristen”. Bahkan, umat Islam sendiri ikut-ikutan menjuluki Islam sebagai radikal-teroris terhadap Islam.[8]
Bahkan belakangan, pemerintah menutup situs-situs yang dianggap berbau radikal. Dan situs-situs berbau radikal itu tiada lain situs-situs Islami. Juru bicara yang mendatangi Kantor Kominfo menjelaskan definisi radikalisme. Para awak media Islam ini tetap ingin mengklarifikasi soal radikalisme yang dipahami oleh BNPT dan masyarakat umum. Pemimpin Redaksi hidayatullah.com, Mahladi mengatakan bahwa, apabila arti radikal diartikan dengan shalat tahajud, shalat berjamaah tepat waktu di masjid, berjanggut, jidat hitam, atau celana yang menggantung di atas kaki, “berarti kita radikal semua”, katanya. Dia menjelaskan bahwa radikal memiliki arti akar, yang sama dengan arti fundamental. Islam radikal memiliki arti belajar Islam hingga ke akar. Dia mempertanyakan definisi radikal yang dilayangkan oleh BNPT kepada awak media Islami. [9]
Jadi sebenarnya ada apa dengan kata radikal? Ia telah menjadi monster yang menakutkan dan disematkan pada Islam. Istilah radikal diidentikkan dengan faham atau aktivitas fisik yang keras yang dilakukan oleh umat Islam. Tak jauh berbeda dengan istilah teroris yang dinisbatkan kepada umat Islam. Jika pelakunya bukan muslim, maka tidak disebut teroris atau radikalis, tetapi hanya perbuatan kriminal murni.
Pada tataran selanjutnya, dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme muncul wacana strategi deradikalisasi, yaitu upaya untuk memutus rantai radikalisme, yang berangkat dari asumsi pemicu terorisme adalah radikalisme.
Maka ketika isu ISIS mencuat yang disinyalir banyak melakukan tindakan kekerasan yang brutal, wacana deradikalisasi menguat kembali, yang berikutnya muncul isu adanya situs Islam radikal yang berujung pada pembredelan situs-situs yang dikelola oleh beberapa komunitas atau organisasi Islam.
Fenomena terorisme sendiri bagi sebagian besar umat Islam masih menjadi tanda tanya, kendatipun berbagai wacana dan kajian tentang ini sudah banyak dilakukan, namun identifikasi penyebab masih kabur.
Siapakah sebenarnya pelaku terorisme dan apa motif dibalik aksi terorisme. Namun yang jelas, semua ormas Islam yang resmi di nagara ini sama-sama menyatakan bahwa praktik terorisme bukanlah bagian dari Islam dan bahkan antithesis Islam. Tidak terkecuali ormas-ormas yang sering distigma sebagai ormas garis keras seperti Fron Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI).
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan fatwa tentang terorisme. Menurut fatwa MUI, terorisme hukunya haram dilakukan oleh siapapun dengan tujuan apapun. Dalam fatwa MUI juga dijelaskan perbedaan secara nyata antara terorisme dengan jihad. Jihad sifatnya untuk melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan, tujuannya menegakkan agama Allah dan membela hak-hak pihak yang terzalimi, serta dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syari’at dengan sasaran musuh yang sudah jelas. Sementara itu, terorisme sifatnya merusak (ifsad) dan anarkhis atau chaos, tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan atau menghancurkan pihak lain, serta dilakukan tanpa aturan yang jelas dan sasaranya tanpa batas.[10]
Dari sini sudah jelas bahwa Islam melarang terorisme yang berupa pengeboman atau pengrusakan. Namun sekali lagi, pikiran kita telah diisi citra-citra buruk Islam, yang seolah teroris itu tiada lain kecuali Islam itu sendiri. Padahal, sejarah merekam bahwa kalangan selain Islam jauh lebih banyak dalam melakukan tindakan terorisme, kekerasan, penjarahan, pembantaian, pengrusakan, penyiksaan, pemerkosaan masal, dan berbagai aksi asusila dan tindak chaos lainnya.




PADA AKHIRNYA …
Deradikalisasi Agama
Dari penjelasan di atas kita mendapatkan kesimpulan bahwa ada labelisasi sepihak. Radikal itu tiada lain adalah Islam dan selain Islam bukan radikal. Bahkan, mereka yang hanya berjenggot, berjubah, dan tidak melakukan pernah melakukan tindak kekerasan sedikitpun dicurigai dan bahkan ada yang sampai melabeli sebagai radikalis.
Maka, dari fenomena ini, sebetulnya, label radikal (jika dianggap sebagai monster yang mengerikan), tidak pas dilabelkan pada Islam. Jika pun mau dilabelkan pada Islam maka sebetulnya mereka yang banyak mengkritik agama, al-Quran, dan hadis, yang mengatasnamakan humanisme dan kontekstualisasi sebetulnya cocok untuk dilabeli radikal. Mereka tiada lain adalah kalangan sekuler-liberal, yang melabel-labelkan radikal kepada kalangan yang tidak sependapat dengan mereka, padahal mereka sendiri radikal.
Bahwa pemahaman Islam yang al-ma’lum minad-din bidh-dharurah (diketahui dalam agama secara pasti), seperti Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, mereka kritik habis-habisan dan disebut sebagai pemahaman yang intoleran terhadap penganut agama lain. Justru para penggiat kebenaran semua agama inilah yang patut untuk disebut radikal. Sebagaimana definisi disebutkan di depan, bahwa radikal ialah kalangan yang menuntut perubahan besar-besaran terhadap suatu “tiang dan pondasi” yang telah mapan.
Akhirnya, upaya deradikalisasi agama dapat kita maknai sebagai, suatu tindakan untuk mensterilkan agama dari paham-paham yang ekstrem, baik itu ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.[]




Bacaan Lebih Lanjut
The Concise Oxford Dictionary. cetakan tahun 1987
Software KBBI Offline
M. Dahlan al-Barry dan Pius A. Partanto. Kamus Ilmiah Populer. Arkola Surabaya
https://id.wikipedia.org/wiki/Radikalisme
Dr. AM. Saefuddin. Ijtihad Politik Cendekiawan Muslim. Gema Insani Press. Cet I 1996
Mahathir Mohamad. Terrorism and the Real Issues. Subang Jaya: Selangor Malaysia. Pelanduk Publications Cet. I 2003. hal. 9
Republika edisi 31 Maret 2015
Hasil Ijtima Ulama MUI tahun 2015



[1] The Concise Oxford Dictionary, cetakan tahun 1987, hal. 122
[2] Software KBBI Offline
[3] M. Dahlan al-Barry dan Pius A. Partanto, Kamus Ilmiah Populer, Arkola Surabaya, hal.98
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Radikalisme
[5] Dr. AM. Saefuddin, Ijtihad Politik Cendekiawan Muslim, Gema Insani Press, Cet I 1996, hal. 43
[6] Ibid, hal. 51
[7] Ibid, hal. 54
[8] Mahathir Mohamad, Terrorism and the Real Issues, Subang Jaya: Selangor Malaysia, Pelanduk Publications, Cet. I 2003, hal. 9
[9] Republika edisi 31 Maret 2015
[10] Hasil Ijtima Ulama MUI tahun 2015
Share:

Urusan Jokowi, Refleksi atas 'Kabinet Gaduh untuk Siapa?'

Dr. Gun Gun Heryanto, seorang Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, menanggapi kegaduhan kabinat Jokowi-JK melalui artikelnya di media massa, Koran Sindo (10/03/2016). Ia meningalkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi tidak mudah menjawabnya. Pertanyaan ‘kabinet gaduh untuk siapa?’ yang dijadikan judul ini, layak untuk diperhatikan dan direnungkan oleh para kabinet yang gaduh itu. Pertanyaan ini sekaligus mendorong Jokowi untuk menjadi “penjinak”.

Sebagaimana dijelaskan penulisnya, kegaduhan mereka ialah hanya di media sosial, tetapi komunikasi medsos ini tidak bisa hanya menjadi “hanya”. Sebagai kabinet negara, followers mereka tentu saja amat banyak, dan jika Jokowi tidak sesegera mungkin menengah-nengahi dan menyelesaikan berbagai silang pendapat ini, dikhawatirkan kinerja negara semakin menurun, karena disibukkan oleh “debat” yang tak kunjung usai.

Pertanyaan ‘kabinet gaduh untuk siapa?’ bisa jadi mewakili kegelisahan kita dengan keberadaan mereka yang–menurut bahasa Soekarno–“merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi”. Setidak-tidaknya semenjak vis a vis Capres Cawapres Jokowi-Jk dan Prabowo-Hatta dan kemudian peresmian Ir. H. Joko Widodo sebagai presiden dan wakil presiden, lalu kontroversi pelantikan kabinet antara yang dianggap professional da nasal-asalan, rakyat telah digaduhkan dan digelisahkan oleh dagelan politik para elit. Kegaduhan kabinet yang terjadi di medsos belakangan ini, hanya menambah kegaduhan itu.

Sebagaimana disebutkan di muka, Jokowi-Jk sebagai “penjinak” dituntut segera mengambil langkah yang tanggap dan sikap yang tegas. Hal ini agar anak buahnya segera bungkam. Satu kata yang “disabdakan” oleh seorang kepala negara berotoritas kuat. Pemimpin memiliki tugas mengubah bangsa menjadi lebih baik, dan menjadi “penjinak” dalam konteks ini ialah bagian dari itu. Frasa ‘bukan urusan saya’ perlu direvolusi menjadi ‘urusan saya’.[]
Share:

Sunday, 20 March 2016

(Hanya) Meminjam Istilah Mithos dan Logos

Ada dua istilah menarik dalam peradaban Yunani kuno, yaitu mythos dan logos. Mythos berarti mitos, identik dengan hal-hal mistik yang tidak terjangkau oleh akal manusia biasa. Sedangkan logos berarti nalar; logis; jangkauan pikir yang hubungannya dengan materi dan fisik dalam kultur ilmiah. Pada tulisan sederhana ini, saya meminjam istilah mythos dan logos untuk membahas tentang urgensitas mengamalkan ilmu.

Sebagaimana kita ketahui, pada jaman sekarang semuanya harus serba ilmiah. Saking ilmiahnya, tidak mempercayai hal-hal yang gaib, tidak kelihatan, unreal (tidak nyata) kecuali setelah dibuktikan dengan semangat sains-katanya. Pembahasan mengenai barakah, karamah wali, dan mukjizat, misalnya, bagi "mereka" merupakan tema kolot dan konservatif yang tidak dibahas kecuali oleh orang kampung, karena semua itu dianggap mythos.

Harus diakui bahwa, kultur kita saat ini telah mendidik kita untuk melihat segala hal secara material dan fisik. Yang transenden sedikit-sedikit tergeser, bahkan tergeser sama sekali: pandangan hidup Barat, yaitu pandangan hidup materialisme, dikotomisme, sekularisme, empirisisme, dan isme-isme lainnya, yang berkembang dan mengakar di sana. Sebenarnya, ini merupakan kekhawatiran. Takut-takut memperngaruhi pandangan hidup umat Islam.

Adapun penjelasan saya tentang "mereka" yang sulit mempercayai hal-hal berbau mistik (dalam tanda kutip) seperti di atas, tiada lain hanya sekadar menggambarkan bahwa dunia realita yang melingkupi kita saat ini adalah empirisisme yang mengesampingkan yang tidak bisa diindra. Ini hanya sekadar contoh, dan bukan ini yang saya tekankan dalam tulisan saya ini. Saya hanya meminjam kedua istilah itu (mythos dan logos) untuk menjelaskan urgensitas mengamalkan ilmu. Bukan menekankan pada 'mythos dan logos'-nya, tetapi tentang 'mengamalkan ilmu'-nya.

Dalam kajian filsafat ilmu, ada penjelasan terkait konsep kebenaran yang sering diperdebatkan. Di sana dijelaskan bahwa kebenaran itu bermacam-macam. Kebenaran itu ada yang rasional atau logis, falsafi, absolut, dan lain-lain. Perbedaan penilaian terhadap sebuah problema atau kasus misalnya itu lumrah disebabkan sisi pandang yang berbeda. Satu contoh tentang wali, barakah misalnya: bisa jadi salah menurut filosof, tapi tidak menurut yang lain. Surga dan neraka juga, ini mythos menurut ahli filsafat apalagi filosof Yunani kuno, tapi benar menurut kita muslim, karena tidak semua kebenaran harus bisa dicerna akal, atau dibuktikan terlebih dahulu. Dan kenyataannya memang begitu (kebenaran tidak harus bisa dibuktikan dengan panca indra. Contoh: gagasan itu ada, tetapi gagasan itu sendiri tidak bisa diseperti-apakan dan bagaimanakan, tidak bisa diindra).

Nah, kembali ke masalah mythos dan logos. Teori-teori, informasi-informasi, dan petuah-petuah dalam tulisan di majalah-majalah, buku-buku, dan kitab-kitab akan tetap menjadi mythos jika tidak diijewantahkan dengan amal perbuatan. Di dalam kitab misalnya, kita mendapati pembahasan tentang sabar yang diuraikan dengan rinci dan baik. Namun, selamanya, tulisan tentang sabar itu akan tetap menjadi mythos yang tidak bisa dijamah. Agar bisa dijamah, kita membutuhkan logos, yang berarti menindaklanjuti, mengimplementasikan, membuktikan, dan mengamalkan ilmu tentang sabar sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut. Dengan demikian, sabar itu ilmu/mythos yang harus dibuktikan dengan perbuatan/logos.

Banyak sekali ilmu yang kita peroleh. Namun, kita jangan merasa cukup hanya memperolehnya. Sebab semua yang kita peroleh itu sekadar mythos. Yang harus kita lakukan adalah mengamalkannya. Jika kita mengamalkan, berarti ilmu yang kita peroleh itu adalah logos, bukan lagi mythos. Sebab, ilmu manfaat adalah ilmu yang diamalkan, mythos yang terbukti adalah mythos yang di-logos-kan.[]
Share: