Sunday, 14 December 2014

Mengolah Lahan Sendiri

Bagaimana pun dagelan politik berbunyi, semenjak vis a vis antara Capres-Cawapres Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa, peresmian Ir. H. Joko Widodo sebagai presiden, kenaikan harga BBM bersubsidi, hingga kontroversi pelantikan kabinet antara yang dianggap profesional dan asal-asalan, rakyat tetap harus ‘mengolah lahan sendiri’, tetapi juga tidak mesti berdiam diri tanpa melakukan sanggahan dan negasi terhadap kebijakan pemerintah dan keputusan demokrasi. Gemuruh politik, jika kita ingin disebut sebagai nasionalis yang bijak, haruslah dihadapi secara elegan. Kebijakan pemerintah merupakan keniscayaan, siapapun yang memimpin. Ada yang mengacungi jempol, ada pula yang membelakangi. Setidak-tidaknya, bagi rakyat jelata yang tidak berkecimpung dalam dunia perpolitikan tanah air, bertindaklah seelegan mungkin namun tetap merasa bertanggung jawab dalam memperbaiki dan mengubah bangsa, sekalipun rasa tanggung jawab ini dalam kadarnya yang paling kecil.
Share:

Wednesday, 11 September 2013

Beliau, Salah Satu Guru

Bukan tanpa alasan mengapa saya mengagumi pribadi beliau. Seorang guru yang selalu berkopyah putih, bersarung kotak-kotak, dan berbaju hem lengan pendek itu sangat khumul (low profile), namun kepribadiannya cukup terkenal. Ada aura kewibawaan yang memancar dari cara beliau berjalan yang selalu menundukkan kepala menampakkan kesederhanaan.

Apa yang membuat saya kagum? Apa yang membuat saya menundukkan separuh badan saat lewat di depan beliau? Apakah beliau seorang penyanyi papan atas seperti Ariel Noah, atau orang super sibuk yang selalu mengenakan dasi dan jas hitam, atau beliau hanyalah orang pinggiran yang sama sekali tidak terpandang di mata kalangan elit? Sudah pasti beliau bukan seorang nabi, dan sudah jelas bukan rasul. Rasulullah Muhammad adalah khâtamun-nabiyyîn walmursalîn. Entah kalau wali, hanya Allah yang mengetahui.

Beliau adalah salah satu alumnus pesantren di Jawa Timur, sebuah pesantren tercinta tempat saya menimba ilmu agama dulu. Intelektualitas dan kealiman beliau tidak diragukan lagi. Meski demikian, beliau memahami bagaimana bersosial secara baik dan santun dengan orang lain. Cara beliau berinteraksi dengan orang-orang tidak muluk-muluk, fair, familiar, dan biasa-biasa saja. Bibir yang selalu tersenyum adalah ciri pribadi beliau.

Dalam masalah produktivitas, sudah puluhan buku yang dihasilkan. Sebagian buku beliau sudah terjual di Gramedia. Saya pernah pergi ke Gramedia Jember, mendapati buku karangan beliau, dan saya membelinya.

Artikel-artikel ilmiah dan tulisan-tulisan populer beliau sering mengisi majalah-majalah dan jurnal-jurnal milik pesantren, perguruan tinggi, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, dan sebagainya. Beliau juga sering menjadi narasumber di seminar, kuliyah umum, dan diskusi panel yang dihelat di dalam negeri maupun di luar negeri, Malaysia misalnya. Yang jelas, undangan beliau menumpuk dan berjubel. Saking banyaknya undangan yang datang, beliau harus berusaha mengoptimalkan waktu agar semua undangan sebisa mungkin dihadiri.

Beliau bisa disebut orang sibuk, tapi juga bisa disebut penganggur. Dikatakan orang sibuk karena memang demikian adanya. Dikatakan penganggur karena kendati sibuk, kesibukannya seakan tidak memancar dalam diri beliau. Keringat beliau selalu ditutupi oleh sikap sederhana. Adalah hal lumrah jika beliau selalu tersenyum meskipun-barangkali-capeknya bukan main.

Tentu saja, bukan kesibukan beliau yang membuat saya-dalam bahasa anak-anak muda-ngefans. Bukan karena beliau diundang sana-sini yang menjadikan saya kagum. Kesederhanaan, sikap tawadhu, low profile, kealiman, loyalitas, intelektualitas, religiusitas, dan kerendahan hati beliau lah yang menjadi titik perhatian saya.

Jika berpapasan dengan beliau, sudah merupakan hal lumrah jika saya bersalaman, mencium tangan beliau karena mengharapkan barakah. Setidak-tidaknya, saya memperoleh cipratan ilmu. Teman-teman saya juga demikian, mencium tangan kanan beliau bolak balik. Tabarrukan, kata mereka.

Meski saya dengan beliau ibarat jauhnya sumur kering dengan langit ke tujuh, tetapi paling tidak saya telah mencintai seorang ulama. Semoga ini cinta murni karena Allah, bukan cinta demi kepentingan pragmatis layaknya pemilukada, yang mana para politisi mencium tangan ulama demi mendapatkan dukungan. Merupakan lambang kehancuran, jika seorang muslim selain tak memiliki ilmu, juga tak mencintai ulama. Na’udzubil-Lah. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah untuk selalu dapat berjuang menuntut ilmu agama dan berdakwah secara luas menurut segmentasi dakwah kita masing-masing. Amin.
Share:

Saturday, 9 March 2013

Indonesia Vs Barat: 2-1

Syukurlah, kita bisa menikmati kearifan negeri ini. Sebuah kearifan yang dapat menenangkan pikiran dan hati dalam  menjalani kehidupan yang fana ini. Kita bisa merasakan estetika dan keindahan budaya dan nilai-nilai Bangsa Indonesia yang telah terpahat berabad-abad yang silam, dimulai pada masa animisme-dinamisme, lalu masa Hindu-Budha, kemudian masa Islam. Budaya dan tradisi lokal Bangsa kita telah berakulturasi dengan Islam, dan akhirnya terbentuklah budaya dan tradisi Indonesia, made in Indonesia. Alhamdulilllah, merupakan nikmat amat berharga yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Indonesia.
Namun, alangkah ruginya jika anugerah dari Allah ini tidak disyukuri. Alih-alih bangsa kita iri kepada Barat karena budaya saintisnya yang hanya melihat fisik dan materi, mengedepankan nalar-logis, mengesampingkan mistitisme dan hal-hal transenden. Agama (baca: metafisik) dianggap sebagai mitos yang harus dikubur dalam-dalam hingga tak berbekas. Meski Bangsa kita memiliki budaya dan tradisi yang tertata lebih apik daripada budaya dan tradisi Barat, entah mengapa kita tertarik pada pandangan hidup rasionalisme, pragmatisme, empirisisme, dikotomisme, dan sekularisme, yang semuanya merupakan worldview Barat yang mengakar dan tumbuh di sana.
Share:

Wednesday, 2 January 2013

Demokrasi Vs Democrazy


Rakyat Indonesia punya dasar dan ideologi sendiri tentang demokrasi. Dalam sila keempat disebutkan, permusyawaratan dan kebersamaan rakyat, seperti dalam al-Quran; musyawarah dan jamaah. Makanya, ideologi Pancasila diterima oleh NU karena isinya sesuai dengan paradigma al-Quran.
Kita bisa bangga karena bangsa kita adalah bangsa yang demokratis. Memang, pada abad ke-20 ini, kita cenderung terikut wacana-wacana modern, seperti HAM (Hak Asasi Manusia), toleransi, gender dan salah satunya adalah demokrasi.
Ya, sistem demokrasi merupakan harga mati bagi Indonesia, sebab memang disebutkan dalam sila keempat. Tapi, kiranya perlu di-vis a vis-kan antara demokrasi liberal dengan demokrasi pancasila. Sebab keduanya centang-perentang dan sulit untuk ditemukan titik temu. Tanpa ada pemilahan itu, sistem demokrasi di Indonesia tidak bisa “sakti”, jika demokrasi liberal ala Barat diambil secara taken for granted, tanpa modifikasi.
Demokrasi Indonesia adalah musyawarah mufakat, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah rembug. Bangsa Indonesia masih mementingkan nilai-nilai universal, mempertimbangkan kultur, norma dan agama. Demokrasi bagi Indonesia sekadar cara mencapai tujuan untuk membuat pemerintahan yang bersih bersama rakyat.
Barat yang tidak mau kebebasannya dikebiri, pantas kiranya menerapkan ekses demokrasinya sendiri. Barat mengabaikan agama, etika dan budaya. Demokrasi dipandang sebagai tujuan merealisasikan kekuasaan sepenuhnya kepada rakyat.
Dulu, sejak bertahun-tahun, pendahulu kita menerapkan sistem musyawarah mufakat. Musyawarah mufakat sendiri merupakan serapan dari bahasa arab yang kemudian secara kultural mengakar di masyarakat. Bila digali, masyarakat Indonesia sejak dulu telah menggunakan musyawarah mufakat untuk memunculkan suatu keputusan.
Presiden Soekarno merasa khawatir akan kemunculan demokrasi liberal ala Barat itu. Sang Proklamator pertama menawarkan antitesis terhadap wacana demokrasi liberal yang tidak sesuai dengan konteks keindonesiaan. Namun, sejak orde baru digulingkan pada 1998, Indonesia malah menerima hadiah demokrasi tanpa ada penyaringan.
Maka, setiap pemilu berlangsung, benturan antar tim sukses jadi konsekuensinya. Kepentingan subjektif kelompok dibungkus dalam jargon kepentingan umum. Gugat menggugat di pengadilan. Money politic, atau jika dikelola dengan bahasa yang lebih halus, cost of politic.
Seperti balapan mobil. Kisruh sana-sini. Finish-nya adalah tangan rakyat. Karung terbesar dengan volume tangan terbanyak, dia lah yang diproklamirkan sebagai “pemenang”. Untuk memenangkan balapan ini, bisa dengan cara serawungan membagi-bagikan sedekah, meminta iba hati rakyat, mencari tim sukses, atau mengisi space iklan di media publik, agar jargon politisnya bisa tampak jelentreh. Yang ada bukannya membela yang benar, tapi membela yang bayar. Takheran jika penyanyi dangdut pun bisa saja meloloskan diri menjadi kandidat presiden pada 2014 nanti. Kita yang tergoda, kita yang menerima hasil pemimpinnya.
Ini akibat dari kita yang kurang cerdas menerima nilai-nilai universal dari luar, tanpa dimodifikasi sesuai norma, tradisi, budaya dan agama yang ada di masyarakat selama ini. Demokrasi hanyalah kulit luar, dan yang paling penting adalah isinya, sesuaikah dengan nilai-nilai atau aturan hukum yang berlaku? Jika tidak sesuai, bukan demokrasi namanya, tapi democrazy.
 Hal-hal baru itu lebih baik, tapi yang dulu juga baik. “al-Muhâfazhatu ‘alal-qadîm ash-Shâlih wal-akhdu bil-jadîd al-Ashlah”.[]

Share:

Saturday, 17 November 2012

Maha Esa; Mahakuasa

Keajaiban adalah nyata. Keajaiban bukanlah magis yang mustahil. Semesta ini berjalan berdasarkan waktu, berurutan, mengalir, satu demi satu peristiwa terjadi; takada beda antara yang biasa dan yang luar biasa; semuanya adalah peristiwa. Bahkan bisa dikatakan bahwa keajaiban atau keluarbiasaan adalah “peristiwa biasa”. Imajinasi saja jauh lebih ajaib dari hal-hal yang kita anggap ajaib!
Marilah kita kembali ke masa lalu, suatu masa ketika kita masih kecil. Saat itu, kita melihat dunia ini dengan begitu takjub dan heran; semuanya serba ajaib. Hidup sungguh menggembirakan. Kita melihat rumput-rumput berwarna hijau dipenuhi embun-embun pagi. Langit sebagai atap bumi berwarna biru muda, sangat memukau dipandang mata.  Kupu-kupu indah beterbangan di udara menghiasi suasana sepi. Apalagi jika mendapati senyuman seorang wanita yang kasihnya takpilih kasih, Ibu, jiwa kita semakin sejuk. Pelukan kasihnya mengalahkan pelukan hasrat bidadari surga.
Share:

Thursday, 1 November 2012

Liberal Positif Gejala KanKer

Ketertarikan orang-orang terhadap shopping menu ateisme di Indonesia pada jamannya Mukti Ali dan Cak Nur berbeda dengan masanya Bung Ulil dan Mas Bimo. Dulu, mereka masih memperoleh jatah mulus untuk mensosialisasikan metode menjadi murtad itu. Tulisan dan petuah ulama dan tokoh tidak tersebar luas seperti sekarang. Apalagi fulus dari barat juga masih cair. Itu dulu.
Sekarang, jangan coba-coba untuk menyebarkan pemikiran nyeleneh.
Mau bikin seminar ilmiah? Buat buku? Beasiswa gratis? “Fulus kering”. Kecele. Isu itu memang telah menjadi perbincangan hangat bahwa JIL belum mati, tapi sekarat.
Kondisi sekarat tidak lantas membikin Bung Ulil,  Si Goen, dan teman-teman mereka pensiun menjadi budaknya Barat. Banyak media yang menyoroti bahwa mereka sekarang menjadi penyanyi orkes; minta saweran. Dulu mereka mendapat dana dari sumber-sumber domestik Eropa dan yang paling besar adalah (TAF) The Asian Foundation. Tapi sekarang, mereka memperoleh dana dari voluntary (sumbangan sukarela).
Kolom Donasi yang ada di situs resmi mereka merupakan salah satu bukti bahwa JIL saat ini mengalami money crisis. Coba buka www.islamlib.com, maka kita akan mendapatinya berbeda; dipampang sebuah kolom donasi di situs resmi tersebut, dan ada sebuah kalimat nesu; Kami menerima sumbangan untuk membantu pendanaan kegiatan-kegiatan JIL.
Share:

Monday, 16 July 2012

Komentar Ulama dan Tokoh terkait Syiah di Tubuh NU

KH. Muhyiddin Abd. Shomad,
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (NURIS), Antirogo Jember

“Saya tidak merasakan aroma Syiah di tubuh NU. Saya melihat ada orang yang blank, tidak nyambung, antara persepsi para petinggi NU dan realita. Kalau kemudian ada orang yang menduga bahwa para petinggi NU terpengaruh Syiah, masih perlu dibuktikan. Tetapi yang jelas, menurut saya, ini bukan infiltrasi. Akan tetapi, miskomunikasi antara petinggi NU dengan warganya. Realita di lapangan, warga NU itu eksodus, dan mayoritas eksodusnya ke Syiah. Kasus di Karanggayam, Omben, Sampang, bisa menjadi bukti akan hal ini. Di sana, ada sekitar 400 warga NU, dan di Bluuran, ada sekitar 500 warga NU, semuanya eksodus ke Syiah. Padahal, Tajul bekerja menyebarkan Syiah cuma 5 tahun, yakni antara tahun 2005 sampai 2011. Coba kita bayangkan, kalau hanya dalam 5 tahun satu orang saja bisa mendapat pengikut sebanyak ini, gimana kalau lebih dari itu?.”
“Saya tahu Said Agil yang membela dan sering hadir dalam ritual-ritual Syiah serta mengekspresikan diri sebagai orang Syiah. Masalah beliau Syiah atau bukan, ini masih perlu dibuktikan. Akan tetapi, saya tidak habis pikir mengapa beliau seperti itu. Padahal, berbagai aliran yang ada harus kita sikapi sama, misalnya Wahabi, Ahmadiyah, dan Syiah. Artinya, kita memberi tahu kepada warga kita bahwa aliran-aliran itu menyimpang dari koridor Ahlussunnah Waljamaah.”

Share:

Sunday, 15 July 2012

Sang Oportunis NU yang Kesiangan

“Maka tidaklah disebut mazhab pada masa saat ini kelompok dengan kriteria-kriteria sifat yang telah disebut tadi, kecuali hanya mazâhibul-arba’ah’ (yaitu mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal). Selain dari yang empat itu, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, maka mereka adalah ahlul-bid’ah yang tidak boleh berpegang pada pandangan-pandangan mereka”

Hadratusy-Syekh K.H. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H/1875-1947 M)
dalam karyanya, Risâlah fî Ta’akkudil-Akhdzi bil-Madzâhib al-Arba‘ah, hal. 29.

Seorang simpatisan NU pernah bertanya, “Mengapa dalam NU itu sering terjadi perbedaan mengenai sikap dan prinsip ke-NU-annya? Yang satu mengatakan ini, yang lainnya berkata itu. Apakah NU sudah tidak Ahlussunnah, sebab orang-orang dalam organisasinya sudah tidak berjamaah lagi?”
Share: